aku tak pernah sedikit pun meragukan hatimu
aku tak pernah sedikit meragukan rasamu
aku tak pernah sedikit pun ragu akan kamu dihidupku
kamu adalah bagian dari aku
tapi aku tidak akan pernah jadi bagian hidupmu
sekuat apapun aku mencoba
sekeras aku pun aku berusaha
AKU tidak akan pernah masuk dalam hidupmu yg nyata
hidupmu yang sebenarnya
aku hanya menjadi bayangan dalam hidupmu
bagaimanapun miripnya bayangan itu
ia akan tetap jadi bayangan
MAYA dan tak pernah jadi NYATA
ku coba mencari celah agar aku bisa masuk dalam hidupmu
mungkin aku terdengar semaunya
terlihat egois
tapi aku sadar sejauh aku mengenalmu
aku tak pernah tau tentangmu
tak pernah tau maumu
tak pernah mengertimu
karena kamu telah membuat dinding yang kokoh
dari awal aku sudah merasa dan aku sudah menyadari
dan aku sudah berusaha menepis pikiran burukku tentang dinding kokoh itu
tapi semakin aku berusaha maka dinding itu semakin kuat
semakin kokoh sedangkan aku tak punya kekuatan untuk itu
hanya pembuat dinding itulah yang tau bagaimana merobohkannya
bagaimana meruntuhkannya dan bagaimana menghancurkannya
dan SEKARANG aku sudah letih
aku tak kuat dan aku tak berdaya
jika dinding itu tetap ada,
maka AKU dan KAMU tak pernah NYATA
kamu akan selalu mengerti aku
tapi aku TIDAK
kamu akan selalu tau mauku
tapi aku TIDAK
kamu akan selalu tau tentangku
tapi aku TIDAK
kamu akan selalu menjadi orang yg kubutuhkan
tapi aku TiDAK
kamu akan selalu menjadi bagian dari ku
tapi aku TIDAK
lalu...apa gunaku??apa arti aku??dan apa salahku??
AKU AKU,,KAMU KAMU
sampai DINDING itu runtuh dengan sendirinya
Hidup itu Pilihan,, Pengalaman bagian dari Pilihan.. Maka Pilih sesuatu yg baik Agar menjadi Pengalaman yg tak terlupakan dlm Hidup
Thursday, November 15, 2012
Wednesday, October 24, 2012
K A M U
aku selalu menatap jauh ke depan
tak pernah ingin ku menatap ke belakang
agar ku selalu bertemu orang yaitu kamu
pangeran hati yang akan manghapus air mata kesedihan
dan menghadirkan sejuta senyum untuk mengisi hari-hariku
menghiasi mataku dengan tangis kebahagiaan
menggenggam tanganku untuk menjemput kebahagiaan bersama
selalu ku menunggu pengeran hatiku
yang selalu merangkul aku di kala aku terjatuh
menggapai erat tanganku di saat aku terhempas
memimpin hidupku dan membawa ku ke alam yang indah
kamu pangeran hatiku
yang selalu aku nanti
di setiap nafasku, denyut nadiku, detak jantungku
berjalan bersama, berlari bersama dan terbang bersama
tak hiraukan betapa lemahnya aku
tak pedulikan betapa pun orang mencemoohku
tak pikirkan betapa bodohnya aku
tak anggap betapapun lemahku
hadapi sikapku dengan kesabaran
hadapi marahku dengan senyuman
hadapi tangisku dengan pundakmu
KAMU tetap mengiringi masa depanku dengan bahagianya KITA
#Pangeran hatiku,,sosok yang selalu aku nanti
NB : lagi eror kyk gini deh
tak pernah ingin ku menatap ke belakang
agar ku selalu bertemu orang yaitu kamu
pangeran hati yang akan manghapus air mata kesedihan
dan menghadirkan sejuta senyum untuk mengisi hari-hariku
menghiasi mataku dengan tangis kebahagiaan
menggenggam tanganku untuk menjemput kebahagiaan bersama
selalu ku menunggu pengeran hatiku
yang selalu merangkul aku di kala aku terjatuh
menggapai erat tanganku di saat aku terhempas
memimpin hidupku dan membawa ku ke alam yang indah
kamu pangeran hatiku
yang selalu aku nanti
di setiap nafasku, denyut nadiku, detak jantungku
berjalan bersama, berlari bersama dan terbang bersama
tak hiraukan betapa lemahnya aku
tak pedulikan betapa pun orang mencemoohku
tak pikirkan betapa bodohnya aku
tak anggap betapapun lemahku
hadapi sikapku dengan kesabaran
hadapi marahku dengan senyuman
hadapi tangisku dengan pundakmu
KAMU tetap mengiringi masa depanku dengan bahagianya KITA
#Pangeran hatiku,,sosok yang selalu aku nanti
NB : lagi eror kyk gini deh
Sunday, September 2, 2012
galauuuuu
nobody
Akhirnya....tiba
juga kesempatan aku buat ngisi blog ini. Udah lama banget rasanya gak ngisi
blog. Aku mau cerita apa y???dari tadi delete2 tulisan mulu, galau mau bikin
apa. Mau cerita perjalanan liburan+lebaran kayaknya udah basi. Jadi aku cerita
apa bagusnya y?? Oia...aku mau cerita tentang seseorang. Bukan mau cerita
tentang dia atau apa, tapi lagi memperhatikan sikap dia. Yapp..sebelum bulan
januari 2012 (kalo gak salah) tu orang makin lama makin berubah aja ma aku. Gak
tau kenapa aku merasa gitu. Maybe karena kami sekarang cuma temenan
(upppsss...) aku gak tau apa ni Cuma perasaan aku tau beneran berubah. Aku merasa
pertemanan kami jadi hambar, rasanya gimana gitu ya. Entah aku atau dia yang
berubah atau sama2 berubah. Sebenarnya aku gak mau sikap aku ataupun dia
berubah, berteman ataupun enggaknya kami berdua. Aku mau seperti dulu aja (tapi
imposible sihh).
Aku lebih
merasa sikapnya dingin, gak terbuka, gak so sweet, pokoknya semuanya enggak. Aku
merasa lebih baik dia yang sebelum2nya (atau dia beberapa taon yang lalu
walaupun cueknya kebangetan tapi lebih nyaman aja). Mungkin juga karena
intensitas ketemu kami udah jarang banget atau bisa dibilang gak ada sama
sekali. Dia yang sekarang emang bukan dia yang berubah jadi pemarah atau gimana
tapi rasa nyaman, aman, dan kemistri tu gak da *gak tau tulisannya gimana,gini
ya “chemistry”?? Susah deh ngejelasin apa yang aku amati dan apa yang aku
rasakan. Daripada aku pusing cerita gaje gini. Udah aja deh,, yang jelas aku
gak tau. Dan mungkin kasimpulan akhirnya kami yang sama2 berubah.
Friday, June 29, 2012
My B'day 19th :)
Alhamdulillah ya akhirnya aku masih bisa menghirup udara diumurku yang ke 19 tahun ni.. Yupp,, tepat hari ni Jum'at 29 Juni. Rasanya udah lama aku gak cerita2 sama blogku. Apa ya yang mau aku ceritain??kayaknya gak ada deh. Bukan karena pelit, tapi emang gak ada yang istimewa. gimana mau ada yang istimewa kalau keluarga aja gak di Pekanbaru, mereka lagi di Lampung dan sebentar lagi aku pun menyusul ke sana, makana sebelum pergi aku sempet2in buat nulis, pacar gak punya. Lengkap kan penderitaan ku??? tapi gak masalah aku udah kebal dan sama sekali gak sedih. Karena sejak tahun kemarin aku emang gak pernah anggap hari ultahku penting, cuma sekedar mengingat nambah umur aja. Gak ada yang special kan??
Hari ini semuanya serba sendiri,,jadi apa donk yang menyenangkan.. Aku ceritain deh, malamnya tepat jam 00.00wib ucapan pertama dari bang dayat, kedua yuyun (anak ecek2), teman kampus ku, dan seterusnya aku gak hapal lagi. Lumayan banyak yang ngucapin ma aku, dan tu aja udah buat aku senang (thx buat yang ngucapin). Paginya aku belanja, karena besok aku gak ada dirumah, terus beres2 rumah, dan maen2 sendiri aja. Dan ntar lagi jam 3 aku udah mau k terminal nyusul keluargaku pake bis, mungkin sabtu malam baru nyampe.
kan udah dibilang gak ada yang menarik,,mada deh jadi orang ;). Oia...sampe saat ini dan detik ini keluargaku belum ada yang ngucapin, mungkin orang tu lagi asik liburan *wahhhh....jadi pingin nangis deh :(. Tapi tenang aja aku gak nangis koq. Heran kan kenapa aku gak nangis???kan udah aku bilang karena biasa.. hahahah
kan udah dibilang gak ada yang menarik,,mada deh jadi orang ;). Oia...sampe saat ini dan detik ini keluargaku belum ada yang ngucapin, mungkin orang tu lagi asik liburan *wahhhh....jadi pingin nangis deh :(. Tapi tenang aja aku gak nangis koq. Heran kan kenapa aku gak nangis???kan udah aku bilang karena biasa.. hahahah
Oia...sebenarnya aku rada2 serem ni naek bus, bukan takut sama orang tapi karena pikiran aku ni haa. temen2 tu kayak gimana ya ma aku, saat aku ngajak kawand SMP ku ngumpul mereka bilang "tumben banget kau ngajak2 gini", saat aku ngajak temend kuliah ku utk makan karena besok kelasna pisah, da yang bilang gini "fitria aja lah yg traktir, traktir utk terakhir kalinya mana tau aja kita gak ketemu", dan saat aku masukin motor, nenek aku bilang "ada yang lain lah nampak aku pas kau masukin motor". wahhhh....bikin takut kan semu kata2na???? *doain aku supaya selamat yaa!!!
udah deh aku malas cerita lagi, ntah apa pun yang mau diceritain, pokoknya yang aku nyesel napa gak berangkat bareng ortu ku aja kemarin, tapi itu gara-gara ujian remedi sih. Remedi menghancurkan hari2ku. Aku udahan dulu deh kapan2 cerita lagi.
aku harap diumurku yang ke 19th ni aku bisa lebih baik, lbih berguna, lebih menyenangkan, lebih shaleh dan bisa bahagiain ortu aku.. Pokoknya semuanya lebih2 deh..
:) Thx buat yang udah ngucapin
aku harap diumurku yang ke 19th ni aku bisa lebih baik, lbih berguna, lebih menyenangkan, lebih shaleh dan bisa bahagiain ortu aku.. Pokoknya semuanya lebih2 deh..
:) Thx buat yang udah ngucapin
Monday, June 18, 2012
Nilai Sosial dan Pembangunan Masyarakat
BAB I
PENDAHULUAN
Pada mulanya jika mendengar istilah
nilai, maka akan terbayang angka-angka yang diperoleh sebagai hasil dari suatu mata
pelajaran tertentu. Nilai akan dianggap baik jika angka yang diperoleh dari
hasil evaluasi belajar tinggi. Atau bisa digunakan sebagai tolak ukur untuk
mengukur tinggi rendahnya hasil kerja. Dalam sosiologi nilai tidaklah
sesederhana itu. Jika dalam kehidupan
sosial terdapat orang berperilaku menyimpang dari pandangan umum masyarakat
tentang sesuatu yang dianggap baik tentu prilaku tersebut dinilai buruk.
Nilai merupakan kumpulan sikap
perasaan ataupun anggapan terhadap suatu hal tentang baik buruk, benar salah,
dll. Dalam konsep sosiologi, nilai-nilai tersebut mempengaruhi pembangunan
masyarakat.
Pembangunan menuju tahap hidup yang
lebih baik, kesehatan yang lebih baik, dan memperoleh pendidikian yang lebih
banyak. Terutama harus ada undang-undang yang menetapkan suatu pendidikan, yang
minimum, bagi orang-orang yang masih buta huruf. Lebih menekankan kepada yang
harus di hadapi, dan sebagai suatu alat yang dilalui untuk mendapat kemajuan.
Masyarakat harus dirangsang dan di bantu untuk maju dengan usaha-usaha dan
inisiatif sendiri-sendiri.[1]
Hal ini yang perlu dibahas secara
mendalam. Oleh karena itu penulis membuat makalah yang berjudul “Nilai-nilai
Sosial dan Pembangunan Masyarakat”.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Nilai-Nilai
Menurut
Horton dan Hunt, nilai adalah gagasan mengenai apakah suatu pengalaman itu
berarti atau tidak berarti. Nilai pada hakikatnya mengarahkan pada perilaku dan
pertimbangan seseorang, tetapi ia tidak
menghakimi apakah sebuah perilaku tertentu itu salah atau benar.[2]
Nilai
merupakan bagian terpenting dari kebudayaan. Suatu tindakan dianggap sah jika
selaras dengan nilai yang disepakati dan dijunjung oleh masyarakat dimana
tindakan tersebut dilakukan. Ketika nilai berlaku menyatakan bahwa kesopanan
adalah sesuatu yang dijunjung tinggi, maka jika terdapat orang tidak sopan
tentu dianggap sebagai bentuk penyimpangan.
Nilai
sosial dapat didefinisikan sebagai suatu kesadaran plus emosi yang relatif lama
hilangnya terhadap suatu objek, gagasan atau orang.[3]
Nilai sebagai dasar untuk menyatukan bangsa yang majemuk. Dalam hal ini nilai
adalah konsep-konsep umum tentang sesuatu yang dianggap baik, patut, layak,
pantas yang keberadaannya dicita-citakan, diinginkan, dihayati dan dilaksanakan
dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi tujuan kehidupan bersama di dalam
kelompok masyarakat tersebut, mulai dari unit kesatuan sosial terkecil hingga
suku, bangsa, dan masyarakat internasional.[4]
Dari
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai adalah ciri sistem sebagai
suatu keseluruhan, dan bukan merupakan sekedar salah satu bagian komponen
belaka, yang mempunyai pengaruh tersendiri dalam kehidupan masyarakat tentang
pantas, layak atau baik buruknya suatu tindakan.
B.
Tingkatan-tingakatan Nilai-nilai
Sosial
Arnold
Green telah membuat sebuah klasifikasi untuk memahami tingakatan nilai sosial.
Tingkatan tersebut ditemukan didalam kepribadian seseorang yaitu :
1.
Perasaan (sentimen) yang abstrak
Pentingnya perasaan
abstrak, timbul dari kenyataan bahwa perasaan tersebut dipakai sebagai suatu
landasan bagi orang-orang untuk membuat kelompok. Perasaan itu juga merupakan
alat-alat yang mudah dipakai oleh seorang individu atau kelompok dalam
membenarkan atau mengesahkan sesuatu yang mereka ingin lakukan (tingkah laku).
Dalam kenyataannya,
banyak perasaan abstrak yang sifatnya kontradiktif yaitu perasaan tersebut
membenarkan suatu jenis tingkah laku menurut perasaan kedua. Kebanyakan manusia
dengan cepat akan melihat kepada perasaan yang membenarkan kepentingan sendiri pada
saat itu, tidak peduli apakah perasaan itu bertentangan atau tidak dengan
pendirian yang sudah diambil sebelumnya. [5]
Pada umumnya konflik
pada perasaaan abstrak manusia itu mengabaikan ketidak konsistennya, yang akan
bisa menghancurkan kepribadian seseorang bisa memisah-misahkan jalan pikiran
dan tingkah lakunya menjadi bagian-bagian yang kecil. Yang terakhir itu terjadi
mungkin karena dua macam sebab, yaitu : tingkah laku seseorang pada saat itu
sesuai dengan norma-norma kelompok masyarakat yang ditempati.
Norma adalah penjabaran
dari nilai-nilai yang lebih terperinci ke dalam bentuk tata aturan atau tata
kelakuan yang secara konstitusi, undang-undang, peraturan pemerintah, konvensi
dan aturan yang tidak tertulis lainnya.[6]
2.
Norma-norma moral
Norma
moral berasal dari bahasa latin mos
yang berarti adat, cara bertindak, kebiasaan. Norma moral berarti aturan bagi
kelakuan atau tidakan dan sekaligus ukuran apakah seseorang itu baik atau tidak
baik sebagai manusia.[7]
Norma-norma moral merupakan standar tingkah laku yang berfungsi sebagai patokan
interaksi sosial. Individu lebih menyadari norma-norma moral sebagai bagian
dari konsepsi dirinya dibandingkan dengan kesadarannya terhadap
perasaan-perasaan yang bersifat abstrak. Sebab norma moral menggambarkan
tuntutan khusus yang mendesak dari pihak kelompok agar ia bertindak menurut
suatu cara tertentu. [8]
Beberapa
norma moral yang berlaku di masyarakat[9]
:
a.
Norma agama yaitu ketentuan-ketentuan yang
bersumber dari ajaran-ajaran agama yang dianggap sebagai wahyu dari Tuhan yang
keberadaannya tidak boleh ditawar-tawar lagi.
b.
Norma kesopanan yaitu ketentuan-ketentuan hidup
yang sumbernya adalah pola-pola perilaku sebagai hasil interaksi sosial di
dalam kehidupan kelompok.
c.
Norma kesusilaan yaitu ketentuan-ketentuan yang
berasal dari hati nurani, yang produk
dari norma susila ini adalah moral.
d.
Norma hukum yaitu ketentuan-ketentuan hidup yang
berlaku dalam kehidupan sosial yang sumbernya adalah undang-undang yang dibuat
oleh lembaga formal kenegaraan.
Kebanyakan masyarakat
lebih mengutamakan norma moral dibandingkan perasaan abstrak, yang mungkin
merupakan kebalikan tingkah laku yang diharapkan. Akan tetapi tidak semua
norma-norma suatu kelompok dapat diterima oleh kelompok lainnya. Jadi norma
moral menduduki suatu tempat utama di dalam pola pembentukan corak kepribadian.
3.
Kedirian sebagai suatu sistem sosial
Kedirian timbul dari
pengalaman sosial, artinya kedirian tidak sepenuhnya timbul akibat orang lain.
Konsepsi kedirian sangat berpengaruh dalam hubungan masyarakat karena tingkah
laku individu berhubungan erat dengan kedirian sebagai suatu nilai sosial.
Tingkah laku, moral dan
etika dipandang sebagai sesuatu yang dapat memperlihatkan atau mencerminkan
kediriannya. Seseorang yang memiliki
tingkah laku, moral, dan etika yang sesuai dengan harapan masyarakat akan
mendapatkan suatu penghargaan yang dapat berupa pujian atau sebaliknya
seseorang yang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan masyarakat akan
mendapatkan ganjaran. Tanpa adanya suatu penghargaan dari masyarakat, maka
individu tidak akan mengerti dengan moralitas serta kediriannya sendiri yang
mempengaruhi kepribadiannya.
C. Ciri-ciri dari Nilai-nilai
Ada
beberapa ciri-ciri dari nilai yang membedakannya dengan norma taupun yang
lainnya yaitu :[10]
1.
Nilai-nilai yang tercernakan
Nilai-nilai tersebut merupakan
suatu landasan bagi reaksi yang diberikan secara otomatis terhadap
situasi-situasi tingkah laku. Nilai-nilai yang tercernakan adalah nilai yang
dipandang dengan otomatis dapat dikatakan eksistensinya tidak dapat dipisahkan
dari si individu karena individu tidak merasa terbebani dengan adanya nilai
tersebut. Seseorang akan melakukan tingkah laku yang sesuai dengan statusnya.
2.
Nilai-nilai norma-norma yang dominan
Nilai-nilai norma-norma
yang dominan adalah nilai-nilai yang lebih diutamakan daripada nilai-nilai yang
dominan. Nilai-nilai yang dominan yang lebih pokok dianggap sebagai nilai-nilai
yang baik. Nilai tersebut ,membentuk suatu sistem nilai tertentu dalam
masyarakat. Nilai yang dominan berfungsi sebagai suatu latar belakang bagi
tingkah laku sehari-hari.
3.
Sifat dari sistem-sistem nilai
Sifat dari sistem-sistem
nilai tidak sama antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok,
bahkan satu tempat ke tempat lainnya. Pada waktu yang sama, variasi mempunyai
suatu hubungan tertentu dengan suatu teme normatif.
Suatu nilai inti
tertentu tidaklah mesti selalu diikuti oleh seiap orang atau setiap kelompok di
dalam masyarakat, tetapi anggota-anggota yang jumlahnya cukup besar dari
masyarakat menjunjung tinggi nilai itu sehingga membuat nilai tersebut menjadi
salah satu faktor penentu yang penting terhadap tingkah laku.
Seseorang yang berbicara
tentang sistem nilai, dibalik ucapannya terkandung suatu pengertian bahwa
nilai-nilai tersebut tidak hanya tersebar secara sembarangan melainkan
sebaliknya mengikuti serta menunjukkan serangkaian hubungan-hubungan yang tidak
bisa terjadi secara kebetulan.
BAB III
SIMPULAN
Nilai
adalah ciri sistem sebagai suatu keseluruhan, dan bukan merupakan sekedar salah
satu bagian komponen belaka, yang mempunyai pengaruh tersendiri dalam kehidupan
masyarakat tentang pantas, layak atau baik buruknya suatu tindakan.
Tingkatan-tingkatan
nilai-nilai sosial yaitu perasaan (sentimen) yang abstrak, norma-norma moral
dan kedirian sebagai suatu sistem sosial. Pentingnya perasaan abstrak, timbul
dari kenyataan bahwa perasaan tersebut dipakai sebagai suatu landasan bagi
orang-orang untuk membuat kelompok. Perasaan itu juga merupakan alat-alat yang
mudah dipakai oleh seorang individu atau kelompok dalam membenarkan atau
mengesahkan sesuatu yang mereka ingin lakukan (tingkah laku). norma moral
menduduki suatu tempat utama di dalam pola pembentukan corak kepribadian.
Kedirian
timbul dari pengalaman sosial, artinya kedirian tidak sepenuhnya timbul akibat
orang lain. Konsepsi kedirian sangat berpengaruh dalam hubungan masyarakat
karena tingkah laku individu berhubungan erat dengan kedirian sebagai suatu
nilai sosial.
Ada beberapa ciri-ciri nilai sosial
yaitu : nilai-nilai yang tercernakan, nilai-nilai norma-norma yang dominan, dan
sifat dari sistem nilai.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. H. Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : PT.
Rineka Cipta,2007)
Elly M. Setiadi, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial :
Teori, Aplikasi dan Pemecahannya, ( Jakarta : Prenada Kencana, 2011 )
J. Dwi
Narwoko, Sosiologi : Teks Pengantar dan
Terapan, (Jakarta : Kencana Prenada Group, 2004)
Muhammad Riifa’i, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta :
Ar-Ruzz Media, 2011)
Sanapiah Faisal, Sosiologi Pendidikan, (Surabaya : Usaha
Nasional, 2010)
[1] Drs. H.
Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta
: PT. Rineka Cipta,2007)h. 104
[2] J. Dwi
Narwoko, Sosiologi : Teks Pengantar dan
Terapan, (Jakarta : Kencana Prenada Group, 2004)h. 45
[3]
Sanapiah Faisal, Sosiologi Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, 2010)h. 344
[4]
Elly M. Setiadi, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial :
Teori, Aplikasi dan Pemecahannya, ( Jakarta : Prenada Kencana, 2011 )h.119
[5] Sanapiah
Faisal, opcit, h.349
[6] Elly M.
Setiadi, opcit, h.129
[7] Ibid, h.
131
[8] Sanapiah
Faisal, opcit, h. 351
[9] Elly M.
Setiadi, opcit, h.133
[10] Ibid,
h. 356
Thursday, April 19, 2012
Model Pembelajaran Kontuktivisme
A. Pengertian Model Pembelajaran Konstruktivisme
Kontruktivisme merupakan pendekatan multidisipler. Kontruktivisme hampir bisa dikatakan bukan suatu mazhab pemikiran baru. Jean Piaget dan Lev Vygotsty, nama-nama yang tetap dihubungkan dengan kontruktivis, sama sekali bukan orang baru dalam panggung studi bahasa.
Beberapa pengertian model menurut beberapa ahli adalah
1. Menurut Agus Suprijono, model adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.
2. Menurut Mills : “model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses actual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu”
Beberapa pengertian pembelajaran menurut beberapa ahli adalah :
1. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, pembelajaran adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu.
2. Menurut James O.Whittaker, belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui pengalaman.
3. Menurut Cronchbach, belajar adalah suatu aktitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Sedangkan kontruktivisme berasal dari kata Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dari pengertian diatas dapat kita ketahui model pembelajaran kontruktivisme memperlihatkan bahwa pembelajaran merupakan proses aktif dalam membuat sebuah pengalaman menjadi akal, dan proses ini sangat dipengaruhi oleh apa yang sudah diketahui orang sebelumnya.
Manusia dapat mengetahui sesuatu dengan menggunakan indranya. Melalui interaksinya dengan objek dan lingkungan, misalnya dengan melihat, mendengar, menjamah, membau, atau merasakan,seseorang dapat mengetahui sesuatu. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan, melainkan proses pembentukan. Semakin banyak seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungan, pengetahuan dan pemahamannya akan objek dan lingkungan akan meningkat dan lebih rinci.
Pendekatan konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam pemikiran pelajar. Pengetahuan dikembangkan secara aktif oleh pelajar itu sendiri dan tidak diterima secara pasif dari orang disekitarnya. Hal ini bermakna bahwa pembelajaran merupakan hasil dari usaha pelajar itu sendiri dan bukan hanya ditransfer dari guru kepada pelajar. Hal tersebut berarti siswa tidak lagi berpegang pada konsep pengajaran dan pembelajaran yang lama, dimana guru hanya menuangkan atau mentransfer ilmu kepada siswa tanpa adanya usaha terlebih dahulu dari siswa itu sendiri.
B. Ciri-ciri Konstruktivisme
1. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
Guru hanya dapat mengarahkan murid untuk dapat memahami pembelajaran, akan tetapi muridlah yang mencerna dan membuat pengetahuan itu menjadi masuk akal olehnya.
2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
Dalam hal ini guru berperan membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh murid berjalan lancar. Guru tidak mentransfer pengetahuan yang dimilikinya, melainkan membantu murid untuk membentuk pengetahuannya sendiri.
3. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
Pengetahuan murid tidak dapat diperoleh secara instan, murid harus dapat mengembangkan pikirannya sendiri secara terus menerus melalui pengalaman dan mengaitkannya dengan pengetahuan sebelumnya. Sehingga perubahan konsep ilmiah pun terjadi .
4. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
C. Beberapa Prinsip yang Harus Diperhatikan dalam Model Kontruktivisme
1. Peserta didik harus selalu aktif selama pembelajaran. Proses aktif ini adalah proses membuat segala sesuatu masuk akal.
2. Proses berpikir selalu dipengaruhi oleh pengetahuan sebelumnya. Apabila seseorang belum memiliki pengetahuan sebelumnya maka orang itu akan kesulitan untuk mencerna pengetahuan yang baru.
3. Proses berpikir dibantu oleh metode intruksi yang memungkinkan bertukar pikiran, melalui diskusi, tanya jawab, dll.
4. Tanya jawab didorong oleh kegiatan ingin tahu para peserta didik. Jadi, kalau peserta didik tidak bertanya tidak bicara, berarti peserta didik tidak belajar secara optimal.
5. Kegiatan belajar mengajar tidak hanya merupakan suatu proses pengalihan pengetahuan, tapi juga pengalihan keterampilan dan kemampuan.
D. Metode Pembelajaran Model Kontruktivisme
Metode pembelajaran yang menunjang pelaksanaan model kontruktivisme adalah active learning seperti role playing. Active playing (belajar aktif), interpretation (penafsiran), make sense (masuk akal), negotiation (pertukaran pikiran), cooperative (kerjasama), dan inquiry (menyelidik).
Strategi pokok dari model belajar mengajar kontruktivisme adalah meaningful learning, yang mengajak peserta didik berpikir dan memahami materi pelajaran, bukan sekedar mendengar, menerima dan mengingat-ingat. Setiap unsur materi pelajaran harus diolah dan diinterprestasikan sedemikian rupa sehingga masuk akal. Pengetahuan baru terbentuk dari sesuatu yang masuk akal. Sesuatu yang tidak masuk akal tidak akan menempel lama dalam pikiran.
Beberapa strategi active learning :
1. Pusat kegiatan belajar adalah peserta didik yang aktif
Peserta didik harus aktif karena peserta didik adalah pusat dari kegiatan belajar mengajar. Peserta harus dilibatkan dalam tanya jawab yang terarah. Peserta harus bisa bertanya serta dapat mencari solusi dari permasalahan. Peserta didik didorong untuk dapat menerima informasi dari pendidik dan membuatnya masuk akal didalam pikiran peserta didik sendiri. Strategi seperti ini memerlukan waktu yang cukup panjang, dan perlunya tanya jawab, pertukaran pikiran, diskusi, dan perdebatan agar dapat mencapai pengertian yang sama.
2. Pembelajaran dimulai yang diketahui siswa
Setiap pembelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Karena itulah kegiatan belajar mengajar harus dimulai dari hal yang telah diketahui sebelumnya agar materi yang baru dapat diterima peserta didik dengan mudah.
3. Bangkitkan motivasi belajar peserta didik dengan membuat materi lebih menarik dan berguna dalam kehidupan peserta didik
Peran pendidik dalam menggunakan strategi pembelajaran sangat berpengaruh untuk memotivasi belajar peserta didik. Dan motivasi tersebut harus dapat meyakinkan peserta didik agar menerapkannya dalam kehidupan dan sangat berguna bagi kehidupan. Disamping itu, pendidik harus lebih pandai memilih metode yang pantas dipakai dalam setiap pembelajaran sehingga pembelajaran lebih menarik dan tidak membosankan.
Pemanasan – apersepsi
1. Pelajaran dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami peserta didik.
2. Motivasi peserta didik dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi peserta didik.
Fokus dalam proses ini adalah menempatkan berbagai usaha siswa untuk memahami pembentukan pembelajaran dalam pendidikan. Kesadaran yang timbul pada diri siswa, bukan berarti guru melonggarkan tanggungjawabnya untuk memberikan pengarahan atau bimbingan.
Eksplorasi
1. Materi/keterampilan baru diperkenalkan
2. Kaitkan materi dengan pengetahuan yang sudah ada pada peserta didik
Menurut pandangan ahli konstruktivisme, setiap siswa mempunyai peranan dalam menentukan apa yang dipelajari. Penekanan diberi kepada siswa agar dapat membentuk kemahiran dan pengetahuan yaitu dengan mengaitkan pengalaman yang terdahulu dengan kegunaannya di masa depan. Siswa tidak hanya diberikan penekanan terhadap fakta atau konsep tetapi juga diberikan penekanan terhadap proses berpikir serta kemahiran berkomunikasi.
3. Cari metodologi yang paling tepat dalam meningkatkan penerimaan peserta didik terhadap materi baru tersebut.
Konsolidasi Pembelajaran
1. Libatkan peserta didik secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi ajaran baru.
Peserta didik dipengaruhi oleh pengetahuannya yang berada dalam diri mereka. Mereka berbagi strategi dan penyelesaian, debat antara satu dengan lainnya, berpikir secara kritis tentang cara terbaik menyelesaikan setiap masalah. Pendidik tidak mengajarkan kepada anaknya bagaimana menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan masalah dan mendorong (encourage) siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan.
Pada saat peserta didik memberikan jawaban, pendidik mencoba untuk tidak mengatakan bahwa jawabannya benar atau tidak benar. Namun pendidik mendorong peserta didik untuk setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan saling tukar menukar ide sampai persetujuan dicapai tentang apa yang dapat masuk akal peserta didik.
2. Libatkan siswa secara aktif.
3. Letakkan penekanan pada kaitan antara materi ajar yang baru dengan berbagai aspek kegiatan kehidupan.
4. Cari metodologi yang paling tepat agar terjadi perubahan pada sikap dan perilaku peserta didik.
Penilaian Formatif
1. Kembangkan cara-cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta didik.
2. Gunakan hasil penilaian tersebut untuk melihat kelemahan peserta didik dari masalah-masalah yang dihadapi pendidik.
F. Aplikasi dan Implikasi dalam Pembelajaran
a. Setiap guru akan pernah mengalami bahwa suatu materi telah dibahas dengan jelas-jelasnya namun masih ada sebagian siswa yang belum mengerti ataupun tidak mengerti materi yang diajarkan sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru dapat mengajar suatu materi kepada sisiwa dengan baik, namun seluruh atau sebagian siswanya tidak belajar sama sekali. Usaha keras seorang guru dalam mengajar tidak harus diikuti dengan hasil yang baik pada siswanya. Karena, hanya dengan usaha yangkeras para sisiwa sedirilah para siswa akan betul-betul memahami suatu materi yang diajarkan.
b. Tugas setiap guru dalam memfasilitasi siswanya, sehingga pengetahuan materi yang dibangun atau dikonstruksi para siswa bukan ditanamkan oleh guru. Para siswa harus dapat secara aktif mengasimilasikan dan mengakomodasi pengalaman baru kedalam kerangka kognitifnya
c. Untuk mengajar dengan baik, guru harus memahami model-model mental yang digunakan para siswa untuk mengenal dunia mereka dan penalaran yang dikembangkandan yang dibuat para sisiwa untuk mendukung model-model itu.
d. Siswa perlu mengkonstruksi pemahaman yang mereka sendiri untuk masing-masing konsep materi sehingga guru dalam mengajar bukannya “menguliahi”, menerangkan atau upaya-upaya sejenis untuk memindahkan pengetahuan pada siswa tetapi menciptakan situasi bagi siswa yang membantu perkembangan mereka membuat konstruksi-konstruksi mental yang diperlukan.
e. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadisituasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik.
f. Latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari.
g. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai dengan dirinya. Guru hanya sebagai fasilitator, mediator, dan teman yang membuat situasi kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.[16]
G. Kelebihan dan Kekurangan Konstruktivisme
a. Kelebihan
Murid berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencana idea dan membuat keputusan. Faham karena murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi. Selian itu murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.
Kemahiran sosial diperoleh apabila berinteraksi dengan rekan dan guru dalam membina pengetahuan baru; Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri; Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya; Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap; Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri; Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
b. Kelemahan
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung; siswa berbeda persepsi satu dengan yang lainnya; perlunya waktu yang banyak dalam model ini.
[1] H.Douglas Brown, Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa, (Person Education,Inc,2008)h.13
[2] http://zonainfosemua.blogspot.com/2010/11/pengertian-model-pembelajaran-dari.html
[3] Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, (Jakarta : Pustaka Amani)h.254
[4] Ibid,h.30
[5] Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar, (Rineka Cipta,1999)
[6] http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/24/teori-belajar-konstruktivisme/
[7] Dr.C.Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta : Rineka Cipta, 2005)h.57
[8] http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/24/teori-belajar-konstruktivisme/
[9] Prof.Dr.Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Kalam Mulia,2010)h.212
[10] ibid
[11] Ibid, h.213
[12] Ibid, h.214
[14] Ramayulis, opcit, h.214
[15] Ibid, h.215
[16] edukasi.kompasiana.com/2011/10/24/teori-belajar-konstruktivisme/
Subscribe to:
Posts (Atom)