Friday, April 10, 2015

Stratifikasi Sosial


A.            Penggolongan Sosial
Dalam tiap masyarakat orang menggolongkan masing-masing dalam berbagai kategori, dari lapisan yang paling atas sampai yang paling bawah. Dengan demikian terjadilah stratifikasi sosial. Ada masyarakat yang mempunyai stratifikasi sosial yang sangat ketat. Seorang lahir dalam golongan tertentu da ia tidak mungkin meningkat ke golongan yang lebih tinggi. Keanggotaanya dalam suatu kategori merupakan faktor utama yang menentukan tinggi pendidikan yang dapat ditempuhnya, jabatan yang dapat didudukinya, orang yang dapat dikawininya dll. Golongan yang ketat seperti ini disebut kasta.
Apabila dalam suatu masyarakat ada yang dihargai, dan setiap masyarakat mempunyai sesuatu yang diharagai, sesuatu itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem lapisan dalam masyarakat itu. Sesuatu yang dihargai di dalam masyarakat dapat berupa uang atau benda-benda ynag bernilai ekonomis, tanah, kekuasaan, dll.[1]
Biasanya penggolongan sosial tidak seketat itu akan tetapi fleksibel dengan batas-batas yang agak kabur dan senantiasa dapat mengalami perubahan. Penggolongan disini diartikan sebagai proses setiap individu menggolongkan dirinya sebagai orang yang termasuk dalam suatu lapisan tertentu atau menganggap dirinya berada pada lapisan atas karena merasa mempunyai sesuatu yang banyak atau menganggap dirinya rendah karena merasa bahwa dirinya tidak memiliki sesuatu yang berharga.[2]
Sifat dari sistem berlapis-lapisan dalam masyarakat ada  yang tertutup dan terbuka. Yang bersifat tertutup tidak memungkinkan pindahnya seseorang dan lapisan ke lapisan yang lain, baik gerak pindahnya ke atas ataupun kebawah. Keanggotaan lapisan tertutup diperoleh melalui kelahiran. Pada masyarakat yang sistem pelapisannya terbuka, setiap anggota memiliki kesempatan berusaha dengan kecakapannya sendiri untuk naik lapisan sosial, atau kalau tidak beruntung, dan jatuh ke lapisan bawah.[3]
Menurut Soejono Soekanto, di dalam setiap masyarakat dimana pun selalu dan pasti mempunyai suatu yang dihargai. Sorokin mengemukakan stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. Perwujudannya adalah kelas tinggi dan kelas rendah.
Ada tiga aspek yang merupakan karakteristik stratifikasi sosial, yaitu :[4]
1.             Perbedaan dalam kemampuan atau kesanggupan. Anggota masyarakat yang menduduki strata tinggi, tentu memiliki kesanggupan dan kemampuan yang lebih besar dibandingkan anggota masyarakat yang di bawahnya.
2.             Perbedaan dalam gaya idup.
3.             Perbedaan dalam hal hak dan akses dalam memanfaatkan sumber daya. Seseorang yang menduduki jabatan tinggi biasanya akan semakin banyak hak dan fasilitas yang diperolehnya. Sementara itu, seorang yang tidak menduduki jabatan strategis apapun tentu hak dan fasilitas yang mampu dinikmati akan semakin kecil.
Oleh karena itu penggolongan sosial harus dilihat sebagai suatu proses menempatkan dirinya dalam suatu golongan tertentu.
B.             Cara-cara menentukan golongan sosial
Konsep tentang golongan sosila tergantung pada cara seorang menentukan golongan sosial itu. Adanya golongan sosial timbul karena adanya perbedaan status dikalangan anggota masyarakat. Untuk itu menetukan stratifikasi sosial dapat diikuti tiga metode yakni :[5]
1.             Metode objektif
Artinya usaha untuk memilah-milah masyarakat ke dalam beberapa lapisan dialkukan menurut ukuran ukuran yang objektif berupa variabel yang mudah diukur secara kuantitatif.[6]
Stratifikasi ditentukan berdasarkan kriteria objektif antara jumlah pendapatan, lama atau tinggi pendidikan, jenis pekerjaan. Biasanya keterangan demikian terkumpul sewaktu diadakan sensus. Menurut suatu penelitian (1954) di Amerika Serikat dokter menempati kedudukan yang sangat tinggi sama dengan gubernur. Guru sekolah menempati tempat yang lebih rendah dari kapten dll. Yang paling rendah adalah tukang semir sepatu.
2.             Metode subjektif
Artinya munculnya pelapisan sosial dalam masyarakat tidak diukur dengan kriteria-krieteria yang objektif, melainkan dipilih menurut kesadaran subjektif warga masyarakat itu sendiri.[7]
Dalam metode ini golongan sosial dirumuskan menurut pandangan anggota masyarakat menilai dirinya dalam hierarki kedudukan dalam masyarakat itu. Kepada mereka diajuka pertanyaan : “Menurut pendapat anda temasuk golongan manakah Saudara dinegara ini?? Golongan atas, menengah atau rendah??”
Contoh metode ini Sekelompok orang karena faktor tertentu (biasanya status) tidak mau disamakan dengan sekelompok yang lain.
3.       Metode reputasi
Artinya pelapisan sosial disusun dengan cara subjek penelitian diminta menilai status sosial dengan jalan menempatkan orang lain tersebut kedalam skala tertentu.
Metode ini dikembangkan oleh W. Lloyd Warner cs. Dalam metode ini golongan sosial dirumuskan menurut bagaimana anggota masyarakat itu. Kesulitan penggolongan objektif dan subjektif adalah penggolongan itu sering tidak sesuai dengan tanggapan orang dalam kehidupan sehari-hari yang nyata tentang golongan sosial masing-masing. Contoh metode ini adalah Sekolompok orang merasa minder ( faktor tertentu) apabila bergaul dengan orang kelasnya lebih diatasnya.
Oleh sebab itu W.L Warner mengikuti suatu cara yang realistis yakni memberi kesempatan kepada orang dalam masyarakat itu sendiri untuk menetukan golongan-golongan mana yang terdapat dalam masyarakat itu lalu mengidentifikasikan anggota masing-masing golongan itu. Warner cs banyak menggunakan dasar-dasar diferensiasi penggolangan itu. Metode ini tidak menghiraukan dasar teoritis bagi penggolongan dan berusaha menentukan stratifikasi sosial seperti yang terdapat dalam interaksi yang nyata dikalangan penduduk dengan dasar pikiran bahwa merekalah yang sesungguhnya mengenal golongan itu dalam kenyataan. Metode penggolongan ini tidak dimaksud untuk mencari perbedaan status atau kekuasaan. Orang dalam masyarakat lain mungkin akan mengadakan stratifikasi sosial yang berbeda dengan menggunakan dasar yang berlainan. Dengan sendirinya sukarlah mengadakan perbandingan stratifikasi sosial antara berbagai macam masyarakat.
Peneliti lain menggunakan berbagai kriteria sosial ekonomi untuk membedakan berbagai golongan sosial seperti jabatan, jumlah dan sumber pendapatan, tingkat pendidikan, agama, jenis dan luas rumah dll. Tidak ada satu metode yang secara umum berlaku untuk menentukan golongan sosial dalam berbagai masyarakat di dunia ini. Mungkin juga tak ada kriteria yang sama yang berlaku bagi masyarakat yang berbeda-beda.
Rumah yang bagus, pendapatan yang banyak bagi orang desa belum tentu dianggap rumah bagus atau pendapatan banyak di kota, dan sebagainya. Dalam masyarakat pedesaan sering sukar menentukan stratifikasi sosial yang jelas. Dalam masyarakat lain dapat dibedakan dua golongan atau lebih yang jelas perbadaannya. Mungkin juga akan diperoleh penggolongan sosial yang berbeda-beda dalam masyarakat yang sama bila digunakan kriteria yang berlainan.
Dalam menganalisis masyarakat Warner menemukan enam golongan yakni golongan “upper-epper, lower-upper, upper-midle, lower-midle, upper-lower, lower-lower”. Jadi dapat dibedakan golongan atas, menengah, dan bawah dan tiap golongan terbagi pula dalam dua bagian yakni bagian atas dan bawah sehingga terdapat enam golongan. Besar tiap kelompok tidak sama. Biasanya golongan paling atas kecil jumlah anggotanya.
Stratifikasi sosial dalam masyarakat kita di Indonesia jelas tampak pada zaman feodal dan kolonial, antara lain berdasarkan keturunan . setelah kita merdeka terbentuk stratifikasi lain berdasarkan kedudukan, sumber pendapatan, pendidikan, dll.
Keberatan yang diajukan terhadap metode yang digunakan oleh W.L. Warner  antara lain :
 1.   Metode itu hanya dapat digunakan bila masyarakat itu kecil masyarakat itu kecil sehingga masing-masing saling mengenal.
2.    Dianggap bahwa metode ini tidak menggambarkan struktur stratifikasi sosial yang sebenarnya dalam masyarakat kecil akan tetapi menurut pandangan golongan menengah dan atas yang digunakan sebagai informan utama.
3.    Metode ini tidak cermat dan tidak akan memberikan hasil sama bila diterapkan oleh peneliti lain.
C.             Tingkat Pendidikan dan tingkat golongan sosial
Dalam berbagai studi, tingkat pendidikan tertinggi yang diperoleh seorang digunakan sebagai indeks kedudukan sosialnya. Menurut penelitian memang terdapat korelasi yang tinggi antara kedudukan sosial seseorang dengan tingkat pendidikan yang telah ditempuhnya. Walaupun tingkat sosial seseorang tidak dapat diramalkan sepenuhnya berdasarkan pendidikannya, namun pendidikan tinggi bertalian erat denga kedudukan sosial yang tinggi. Ini tidak berarti bahwa pendidikan tinggi dengan sendirinya menjamin kedudukan sosial yang tinggi.
Korelasi antara pendidikan dan golongan sosial antara lain terjadi oleh sebab anak golongan rendah kebanyakan tidak melanjutkan pelajarannya sampai perguruan tinggi. Orang yang termasuk golongan sosial atas beraspirasi agar anaknya menyelesaikan pendidikan tinggi . jabatan ortu, jumlah dan sumber pendapatan, serta lambang-lambang yang berkaitan dengan status sosial ada kaitannya dengan tingkat pendidikan anak.
Pada tingkat SD belum tampak pengaruh perbedaan golongan sosial, apalagi kalau kewajiban belajar mengharuskan semua anakn memasukinya, akan tetapi pada tingkat Sekolah Menengah apalagi tingkat pendidikan lebih atas maka akan jelas terlihat perbadaan golongan. Perbedaan persentase anak-anak golongan yang berada atau berpangkat makin meningkat dengan bertambah tingginya taraf pendidikan dan usia pelajar. Perbedaan sumber pendapatan juga mempengaruhi harapan orang tua tentang pendidikan anaknya. Sudah selayaknya orang tua yang berada mengahrapkan agar anaknya kelak memasuki perguruan tinggi. Sebaliknya orang tua yang tidak mampu tidak akan mengharapkan pendidikan yang demikian tinggi. Cukuplah bila anak itu sendiri mempunyai kemauan keras untuk melepaskan diri dari pendirian lingkungan dan berusaha sendri denga segenap tenaga untuk melanjutka perguruan tinggi.
Faktor lain yang menghambat anak-anak golongan rendah memasuki perguruan tinggi ialah kurangnya perhatian pendidkan di kalangan orang tua. Banyak anak-anak golongan ini yang berhasrat utuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi akan tetapi dihalangi oleh ketiadaan biaya. Banyak pula anak-anak yang putus sekolahnya karena alasan finansial. Pendidikan memerlukan uang, tidak hanya untuk uang sekolah akan tetapi juga untuk pakaian, buku, transport, dll.


[1]Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,2010), h.199
[2] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada),h.34
[3] Elly M. Setiadi, Pengantar Sosiologi, (Jakarta : Kencana Prenada, 2011),h.401
[4] J. Dwi Narwoko, Sosiologi Teks Pengantar dan Penerapan, (Jakarta : Kencana Prenada Group,2004),h.152-154
[5] Prof. Dr. Nasution, MA, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2004),h.27
[6] Elly M. Setiadi, opcit,h.440
[7] ibid

Saturday, November 29, 2014

Ketika Cinta Telah Pergi

mungkin tak banyak yang dapat kuungkapkan setelah orang yang begitu sangat melindungi ku dan selalu berada disisiku memilih untuk pergi dan melepaskanku. sedih?? yahhh...tentu saja. tapi inilah hidup yang harus dijalani.
Ia yang selalu berada disisiku..
Ia yang selalu melindungiku..
Ia yang selalu sabar menghadapi tingkah lakuku...
Ia yang selalu menjagaku..
Ia yang selalu rela berkorban untukku..
Ia yang selalu bisa menerimaku apa adanya..
Ia yang bisa menerimamu masa laluku..
Ia yang selalu ada disaat kau terpuruk, sedih, takut dan terancam...
Ia yang selalu menutupi kekuranganku dan menerimanya
Ia yang dulu seolah selalu menggenggam tanganku dan berkata,"jangan takut!!aku ada :)"
tapi kini semuanya telah hilang,,semuanya telah berubah dan sudah tak seindah dulu. 3 tahun merubah segalanya. kisah yang panjang tak berujung kini telah berujung.
Apakah ia telah menyerah?? Apakah ia tak sanggup menyimpan titipan hati itu?? Apakah ia telah mengembalikannya sejak lama tanpa aku sadari??
kini aku sadar ia menghindariku dan tak mau berurusan denganku. kini aku sadar ia sudah benar-benar pergi tanpa sepatah katapun. janji yang dulu ternyata telah berubah seiring berjalannya waktu.
sedih rasanya ketika tau ia tak ingin berada disampingku lagi dan berusaha menjahuiku bahkan mungkin sangat membenciku. bahkan untuk sekedar sms pun tak pernah. dulu aku pikir ia sangat sibuk tapi sekarang aku tau karena ia sudah tidak mempunyai alasan untuk tetap berada disampingku.
apakah kau tidak ingin mengucapkan selamat tinggal padaku?? aku tau semestinya aku sadar kalau ia sudah peduli lagi. dan aku sudah tau alasannya kenapa ia begitu tidak mencemaskan aku ketika aku memberinya kabar bahwa aku akan pindah.
mungkin waktu yang telah mengubah semuanya atau bahkan kami yang telah mengubahnya??

banyak yang tak dapat ku ungkapkan langsung padamu, ketika aku menelponmu, kau selalu tau kalau aku tidak dalam keadaan baik-baik saja :) terimakasih untukmu  yang DULU selalu ada buatku. Sebenarnya aku berharap blog mu adalah saksi bisu janjimu padaku. tapi sepertinya semuanya sudah berubah menjadi kenangan.
sebenarnya aku berharap kisah kita bakal sama seperti novel bikinanku yang terinspirasi darimu. tapi sepertinya tidak sama sekali. sekarang aku dalam tahap pengerjaan novel KITA. ku harap suatu saat kau akan membacanya :) terimakasih sudah menjadi inspirasiku dan memberi warna dihidupku.

Wednesday, January 8, 2014

Kurikulum 1994



BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan aspek penting bagi perkembangan sumber daya manusia, sebab pendidikan merupakan salah satu instrumen yang digunakan bukan saja untuk membebaskan manusia dari keterbelakangan, melainkan juga dari kebodohan dan kemiskinan. Pendidikan diyakini mampu menanamkan kapasitas baru bagi semua orang untuk mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru sehingga dapat diperoleh manusia produktif. Di sisi lain, pendidikan dipercayai sebagai perluasan akses dan mobilitas sosial dalam masyarakat baik secara horizontal maupun vertikal.
Kurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu pendidikan. Kurikulum dalam arti sempit diartikan sebagai kumpulan berbagai matapelajaran/mata kuliah yang diberikan kepada peserta didik melalui kegiatan yang dinamakan proses pembelajaran.
Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan. Dalam sejarah pendidikan diIndonesia sudah beberapa kali diadakan perubahan dan perbaikan kurikulum yang tujuannya sudah tentu untuk menyesuaikannya dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Antara lain Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984 dan Kurikulum 1994. Berbagai alasan dan pendekatan dipakai dalam penyempurnaan kurikulum.  Dengan kurikulum yang sesuai dan tepat, maka dapat diharapkan sasaran dan tujuan pendidikan akan dapat tercapai secara maksimal.
Pada kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena  suasana pendidikan di LPTK (lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar. Akibatnya, pada saat itu dibentuklah Tim Basic Science yang salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum di sekolah. Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran harus diberikan cukup banyak kepada siswa, sehingga siswa selesai mengikuti pelajaran pada periode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang cukup banyak.[1]
Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak. Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut. Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi).[2] Oleh sebab itu, penulis akan membahas tentang “Kurikulum 1994”.


BAB II
PEMBAHASAN
A.           Tujuan  dan Proses Belajar Kurikulum 1994
Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses,” kata Mudjito menjelaskan.[3]
Secara umum tujuan diterapkannya kurikulum 1994 adalah meningkatkan mutu pendidikan melalui siswa mampu menguasai materi yang diberikan, bahan ajar berdasarkan TIU (Tujuan Institusional Umum) dan TIK (Tujuan Institusional Khusus) dan menyiapkan siswa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.[4]
Pada kurikulum 1994 muncul istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Kegiatan belajar cenderung di dalam kelas, mengejar target berupa materi yang harus dikuasai, berorientasi kognitif. Bahan ajar yang akan disampaikan oleh guru harus berdasarkan pada TIU dan TIK (tujuan pembelajaran). Selain itu, kurikulum 1994 bertujuan untuk membekali siswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.[5]
Kegiatan belajar cenderung didalam kelas. Proses pembelajaran bersifat klasikal dengan tujuan menguasai materi pelajaran. Guru dianggap sebagai pusat dari pembelajaran, karena guru menyampaikan materi hanya menggunakan satu metode saja, yaitu metode ceramah. Oleh karena itu guru dianggap sebagai pusat pembelajaran. Metode yang digunakan mengajar cenderung monotone yaitu ceramah, tidak menggunakan metode-metode lain yang melibatkan siswa aktif. Guru mengajar hanya mengejar target berupa materi yang harus dikuasai dan  berorientasi kognitif.[6]
Namun, perpaduan tujuan dan proses pada kurikulum 1994 belum berhasil. Kritik bertebaran, dikarenakan beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Hasilnya, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.[7]
B.            Ciri-ciri Kurikulum 1994
Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut:
1.      Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan
2.      Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi)
3.      Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan social. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban), dan penyelidikan.
Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
4.      Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks.
5.      Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa.
C.           Kekurangan Kurikulum 1994 dan Penyempurnaannya
Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut:[8]
1.             Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran.
2.             Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
3.             Proses pembelajaran bersifat klasikal dengan tujuan menguasai materi pelajaran, guru sebagai pusat pembelajaran. Target pembelajaran pada penyampaian materi.
4.             Evaluasi atau sistem penilaian menekankan pada kemampuan kognitif. Keberhasilan siswa diukur dan dilaporkan atas dasar perolehan nilai yang dapat diperbandingkan dengan nilai siswa lain. Ujian hanya menggunakan teknik paper and pencil test.
Permasalahan di atas terasa saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum 1994. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan itu diberlakukannya Suplemen Kurikulum 1999. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu:
1.             Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat.
2.             Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya.
3.             Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
4.             Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek terkait, seperti tujuan materi, pembelajaran, evaluasi, dan sarana/prasarana termasuk buku pelajaran.
5.             Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah.
Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap, yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang.[9]

BAB III
PENUTUP
Secara umum tujuan diterapkannya kurikulum 1994 adalah meningkatkan mutu pendidikan melalui siswa mampu menguasai materi yang diberikan, bahan ajar berdasarkan TIU (Tujuan Institusional Umum) dan TIK (Tujuan Institusional Khusus) dan menyiapkan siswa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.
Ciri-ciri yang menonjol dari kurikulum 1994, yaitu:
1.       Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan
2.       Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi)
3.       Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia.
Kekurangan kurikulum 1994 yaitu:
1.       Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran.
2.       Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
3.       Proses pembelajaran bersifat klasikal dengan tujuan menguasai materi pelajaran, guru sebagai pusat pembelajaran.
4.       Evaluasi atau sistem penilaian menekankan pada kemampuan kognitif.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.slideshare.net/AhmadWahyudinRocknRoll/kurikulum-1994-dan-suplemen-kurikulum-1999
http://www.scribd.com/doc/85564232/BAB-II-Makalah-Peng-kurikulum
http://titinmath.wordpress.com/2012/01/13/makalah-tentang-kurikulum-di-indonesia/
http://masanggastainkediri.blogspot.com/2011/01/orientasi-pengembangan-kurikulum.html


[1] http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/11/kurikulum-1994.html
[2] http://gledysapricilia.wordpress.com/study/sejarah-perkembangan-kurikulum-di-indonesia/
[3] http://www.slideshare.net/AhmadWahyudinRocknRoll/kurikulum-1994-dan-suplemen-kurikulum-1999
[4] http://globotech88.wordpress.com/2010/03/18/perbedaan-kurikulum-1994-dan-ktsp/
[5] ibid
[6] ibid
[7] http://www.scribd.com/doc/85564232/BAB-II-Makalah-Peng-kurikulum
[8] http://viewyuli.wordpress.com/2012/12/20/makalah-perkembangan-kurikulum-di-indonesia/
[9] http://titinmath.wordpress.com/2012/01/13/makalah-tentang-kurikulum-di-indonesia/

Saturday, January 4, 2014

Sajak Putih


Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda      

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

Monday, December 3, 2012

Pilih Pacaran atau Tidak??

Pilih Pacaran atau Tidak??
Rasana udah lama aku aq gak nulis di blog. Kali ini aku mau berbagi ilmu sekaligus berbagi pengalaman yang menurut aq manis, asam, asin (pokoknya nano-nano deh). Tapi pada akhirnya membuat penyesalan dalam hidup. Permasalahanna kali ini “kenapa Tuhan melarang qta pacaran??”
Semua orang yang pernah pacaran pasti berdalih dengan pernyataan lain dalam pertanyaan ini. Sebagian diantara kalian juga akan menjawab “pacaran itu mendekati zina”. Yappp... itu memang benar dan salah satu juwaban yang membuat kalian mnyajikan pernyataan lain: “kalau pacaran Islami kan gak apa-apa. Kan tidak mendekati zina”.
Pada dasarnya Tuhan tidak membolehkan qta pacaran untuk kebaikan qta sendiri. Menolak kemudharatan dalam pacaran (tu yang aq dapat dari pelajaran ushul fiqih, salah satu bentuk dari maqasid syar’iyah). Mudharatnya tentu banyak sekali. Dan yang pastina tidak perlu dijelaskan karena yang pacaran ataupun tidak pasti sudah tau sendiri. Dipikiran kalian akan timbul lagi alasan-alasan untuk tetap membenarkan pacaran atau mendukung tindakan pacaran. Iyakan??kalau emang iya..aku akan kasih beberapa pertanyaan: apa kalian bisa jamin bahwa ketika pacaran kalian tidak akan berdua2an bahkan lebih dari itu??apa kalian yakin diantara keduanya tidak akan menimbulkan syahwat??dan yang paling penting, apa kalian yakin memprioritaskan Tuhan dibanding pacar??
Pada kenyataannya , banyak orang menunda shalat hanya untuk sekedar smsan, telp dan ketemuan dengan pacarnya. Tapi dengan pernyataan ini, mungkin masih ada yang berdalih “qmi memprioritaskan pacar qmi dan qmi tetap menjalankan perintah Tuhan”.
tapi kalian berani melakukan pacaran yang jelas-jelas dilarang agama. Apakah itu yang dikatakan memprioritaskan Tuhan??kalian bahkan lebih memilih untuk melanggar aturan Tuhan yang jelas2 untuk kebaikan diri qta sendiri demi nafsu semata. Apa kalian yakin amal kalian sudah banyak, sehingga tak khawatir untuk menambah dosa??tidak takut dengan bertambahnya dosa??bahkan tidak takut dengan ancaman neraka??
Diantara kalian membuat alasan pacaran “kalau tidak pacaran qta gak tau sifat pasangan asli qta, dan kalau qta menikah bisa saja menyebabkan perceraian”. Alasan lainnya “pacaran itu untuk menentukan apakah dia baik untuk qta dan mencari yang terbaik”. Alasan lain “takut gak dapat jodoh” dan alasan yang paling simple “jodoh tu juga harus dicari, pacaran merupakan bentuk dari usaha mencari jodoh”. Betul gak???
Simple aja sih jawabannya, seperti dalam alquran yang menyatakan wanita baik untuk lelaki yang baik, lelaki baik untuk wanita yang baik pula, wanita buruk untuk lelaki yang buruk dan lelaki buruk untuk wanita yang buruk pula. Pernah dengar kan??tu janji Allah, dan bagi orang yang pacaran berarti dia gak percaya dengan janji Allah. Sekaligus gak pede dengan diri sendiri.
Semua yang ada dalam pacaran hanya kepalsuan, berusaha menutupi kekurangan diri sendiri, berusaha selalu baik dengan pacar, berusaha menghindari apa yang dia tak suka. Belum nikah aja udah banyak tuntutan. Dan tidak jarang pula orang yang pacaran melakukan hal yang dilakukan suami istri seperti pegangan tangan, rangkulan, pelukan dll. (bagi orang zaman sekarang itu biasa. Namun Islam tak pernah brubah dan tetap mengatakan HARAM).
Kalaupun orang yang sebelumnya pacaran pada akhirnya menikah. Adakah keindahan dalam hubungan??adakah keistimewaan dalam pernikahan itu??adakah chemistry atau rasa berdebar-debar yang seharusnya dirasakan setelah menikah itu??aku rasa TIDAK. Kenapa begitu??semuanya terasa biasa saja karena sudah habis termakan waktu pacaran, semuanya sudah dipraktekkan waktu pacaran. Sehingga rasa penasaran, rasa ingin  mengetahui, rasa menjaga, dan rasa cinta yang sebenarnya pun telah hilang.
Seharusnya, jika kalian ingin mendapatkan seseorang yang sifatnya dan kelakuannya sesuai dengan hati dan ingin yang terbaik bukan lewat pacaran. Tapi perbaikilah diri kalian dahulu, perbanyaklah mendekatkan diri kepada Allah. Dengan sendirinya jodoh terbaik dari Allah akan datang tanpa perlu pacaran. Sebab janji Allah itu nyata. Bagaimana mungkin Allah akan tega memberikan jodoh terjelek untuk orang yang menjaga kesucian hati dan dirinya, untuk hamba yang mematuhi perintahnya.
Justru dengan kalian pacaran Allah tidak akan mengirimkan jodoh terbaik untuk kalian. Karena kalian sendiri tidak percaya dengan janji Allah makanya kalian pacaran. Kalian berbuat pacaran karena menginginkan pendamping hidup yang terbaik.
Pertanyaannya sekarang: bagaimana mungkin Allah tega memberi pendamping hidup yang terbaik untuk kalian sedangkan kalian sudah pacaran??kasian banget pendamping hidup kalian dapat orang yang sudah pacaran. Kalau pun Allah memberikan jodoh kepada kalian, tentu saja dari orang sejenis kalian juga serta kelakuannya sama dengan kalian.
Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah pacaran akan mau terhadap orang yang pacaran berkali-kali??tentu saja dia akan mencari pasangan yang tidak pernah pacaran juga. Kalaupun ada itu hanya sebagian kecil dan sangat minim sekali bahkan bisa dihitung jari.
Dan aq salah satu orang yang menyesal karena mengenal pacaran. Walaupun aq pacaran tidak seperti yang kebanyakan. Aq pertama kali pacaran saat aq masuk pesantren, untung saja aq d asrama sehingga qmi tidak berduaan dan beramai-ramai, tidak pegangan tangan, bahkan rangkulan. Waktu pertama kali aq pacaran, aq merasa dia lah cinta terakhir q dan berharap q berjodoh dengannya. Tapi ternyata Tuhan mempunyai cara lain. Sekarang aku mengerti kenapa pacaran dilarang, agar q tidak pernah meerasakan sakitnya pacaran. Melihat pacar qta sedih maka qta juga ikut sedih, mlihat pcar qta mlakukan perbuatan buruk maka qta ikt sedih serta sederet perlakuan menyedihkan hati lainnya.
Aq memutuskan tidak pacaran awalnya karena seminar, dan pada saat itu aq udh pcaran utk k2 kalina. Tapi alhamdulillah dy juga mngerti niat q. Walaupun sudah hampir 1th lebih aq tak pacaran. Tapi tetap saja itu menyisakan sebersit luka. Akankah aku mendapatkan jodoh terbaik sedangkan aku pernah pacaran??sekarang aq lebih fokus memperbaiki diri, karena aq yakin dan percaya janji Tuhan adalah NYATA.

NB : semoga bagi yang membaca ini tidak melakukannya dan jangan sampai qta menyesal dikemudian hari